Saya lebih suka mengatakan bahwa filsafat adalah sebuah proses atau sebuah perjalanan. Dengan mengatakan filsafat adalah sebuah proses maka akan lebih tepat jika disebut dalam bentuk kerja: BERFILSAFAT. Sejauh yang saya pahami, berfilsafat adalah sebuah aktifitas manusia: memikirkan dunia. Memikirkan dunia disini mengandung segmen unik: memikirkan dunia oleh dunia itu sendiri. Dunia itu sendiri disini sebenarnya adalah diri kita sendiri. Ketika kita berfilsafat, memikirkan dunia, dalam arti tertentu adalah mengejawantahkan diri kita sendiri dihadapan dunia yang diri kita sendiri berada dalam bagiannya.
Berfilsafat dalam poros utamanya sebagai manusia sebenarnya lebih menginti ketika kita memikirkan diri kita sendiri: memikirkan apa yang kita pikirkan, memikirkan apa yang kita rasakan, memikirkan apa yang kita liat, memikirkan apa yang kita dengar, memikirkan apa yang kita kecap, dan seterusnya.
Segala sesuatunya ada dalam diri kita, pengetahuan tentang dunia adalah “kita”, “kita” adalah “kita”. Pertanyaannya adalah, apakah pengetahuan kita tentang dunia dan diri kita sendiri yang berkelindan di dalamnya merupakan sebuah “finalitas” pengetahuan yang tetap yang kita dapat dari hasil cerapan alat indera kita atau tidak sebenarnya? Apakah yang benar benar final itu sebenarnya?
Berfilsafat adalah sebuah proses. Filsafat dalam bentuk ilmu pengetahuan yang diajarkan text book dengan membaca dan sebagainya dalam banyak cara (yang saya alami) sepertinya hanyalah bentuk hapalan bukan bentuk Proses. Filsafat ini jelas mandeg: orang hanya bermemori akan tokoh filsafat abad ini, namanya ini, filsafatnya tentang ini, dia berkata seperti ini, dan sebagainya. Adalah sebuah kemandegan, atau bahkan kematian bagi filsafat ini sendiri jika filsafat telah menjadi “benda”. Filsafat adalah proses, sebagaimana kita berproses menjalani kehidupan. Dengan demikian Filsafat adalah Berfilasafat. Dia Proses bukan Benda.
Setidaknya itu menurut saya